Drone Emprit: Kecurangan Pemilu dan Quick Count Terbanyak Dibicarakan

Lembaga analis media sosial Drone Emprit menyebut quick count atau hitung cepat dan isu kecurangan pemilu menjadi topik yang banyak dibahas warganet pada Pemilu 2024.
“Dirty Vote, Kecurangan Pemilu, dan Politik Dinasti sangat tinggi volumenya. Ketiganya berhubungan. Netizen banyak melihat kecurangan, dan menghubungkan dengan fakta dan cerita yang dibangun dalam Film Dirty Vote, menjadi kenyataan,” ujar tulis Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dalam cuitannya pada Kamis (15/2).

“Quick count dan exit poll juga tinggi, menandakan informasi dari metode ini menjadi referensi publik untuk melihat hasil pemilu,” tambahnya.

Menurut Ismail, berita tentang kondisi kesehatan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) seperti sakit, meninggal, dan lain-lain tidak banyak dilaporkan pada pemilu kali ini jika dibandingkan dengan pemilu 2019.

Kemudian, situasi rusuh saat pencoblosan juga tak banyak dibicarakan, menandakan keadaan yang secara umum kondusif selama pencoblosan.

Terkait isu kecurangan pemilu, Ismail menyebut percakapan tentang kecurangan dalam pemilu kali ini dibahas oleh satu klaster besar. Di dalamnya ada netizen yang pro paslon 01, pro paslon 03, media dan yang netral. Sedangkan dari pendukung paslon 02 tidak tampak secara signifikan.

“Mayoritas emosi yang muncul adalah ‘anger’ atau marah. Marah melihat kecurangan yang begitu jelas di depan mata, TSM, untuk calon tertentu. Ajakan melawan dinasti politik,” terang Ismail.

“Kemudian emosi ‘anticipation’ atau harapan dan rencana. Ajak mengumpulkan bukti kecurangan; tuding kecurangan sudah direncanakan sejak awal agar 1 putaran,” imbuhnya.

Dalam analisisnya, Ismail mengatakan banyak akun yang melaporkan tentang kecurangan dalam pemilu 2024 dengan berbagai bukti seperti surat suara yang sudah tercoblos sebelum pemilihan dilakukan, manipulasi data suara, hingga kegiatan pencoblosan oleh anak-anak di bawah umur.

Ia menyebut para guru besar dari berbagai kampus bahkan memberikan testimoni tentang kecurangan dalam pemilu ini. Beberapa akun bahkan menyebut adanya upaya penegakan hukum yang terhambat dan serangan terhadap relawan yang melaporkan kecurangan.

Dalam isu ini muncul kekhawatiran bahwa kecurangan tersebut dapat merusak legitimasi pemimpin yang terpilih dan merusak demokrasi.

“Beberapa akun juga menyebut adanya keterlibatan dinasti politik dan nepotisme dalam pemilu ini,” tulis Ismail.

“Timnas Amin dan TPN Ganjar-Mahfud sepakat untuk menggugat kecurangan pemilu ini,” lanjutnya.

Sementara itu, pada topik quick count, Ismail mengatakan beberapa akun media sosial menyatakan quick count hanya digunakan untuk memaksa masyarakat percaya pada hasil yang sudah ditentukan sebelumnya.

Senada, terdapat juga akun yang mengkritik quick count sebagai penggiringan opini dan mengajak untuk mengawal suara hingga hitungan manual selesai.

Selain itu, ada juga akun yang menyebutkan adanya kecurangan dalam quick count dan meminta agar tidak percaya pada hasil tersebut.

Kemudian, sejumlah akun menyarankan untuk tidak terpaku pada hasil quick count dan menunggu hasil resmi dari KPU.

Di sisi lain, ada akun yang mengucapkan selamat kepada paslon tertentu atas kemenangan versi quick count.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*