Cegah Resesi Seks, China Siapkan Program agar Orang Mau Nikah

Pernikahan kembali digelar di Beijing, China. Hal ini menjadi tanda industri pernikahan yang kembali normal. (AP/Ng Han Guan)

Fenomena resesi seks atau rendahnya angka kelahiran tak hanya menimpa Jepang. China, negara yang notabenenya terpadat di dunia, juga mengalami hal serupa.

Biro Statistik Nasional https://evolutionoforganic.com/China melaporkan bahwa populasi turun menjadi 1,412 miliar tahun lalu dari 1,413 miliar pada 2021. Ini merupakan pertumbuhan alami negatif untuk pertama kalinya sejak 1960.

Untuk mencegah resesi seks semakin parah, China akan meluncurkan proyek percontohan di lebih dari 20 kota untuk menciptakan budaya pernikahan dan melahirkan anak di era baru. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan angka kelahiran yang semakin menurun di negara Tirai Bambu itu.

Mengutip laporan Reuters, Asosiasi Keluarga Berencana China mengatakan bahwa proyek tersebut bertujuan untuk mendorong perempuan agar menikah dan memiliki anak. Selain itu, fokus dari program ini juga untuk mempromosikan pernikahan, pembagian beban domestik, hingga mendorong agar masyarakat meninggalkan norma sosial yang usang seperti mahalnya mahar pernikahan.

Adapun kota-kota yang masuk dalam percontohan termasuk pusat manufaktur Guangzhou dan Handan di Provinsi Hebei, China. Asosiasi tersebut telah meluncurkan proyek di 20 kota termasuk Beijing tahun lalu.

“Masyarakat perlu lebih banyak membimbing kaum muda tentang konsep pernikahan dan persalinan,” kata ahli demografi He Yafu kepada¬†Global Times.

Sebelumnya, sejumlah pemerintah daerah di China juga telah menyatakan komitmennya untuk memberikan insentif pajak, subsidi perumahan, dan pendidikan gratis atau bersubsidi untuk memiliki anak ketiga.

China menerapkan kebijakan satu anak yang ketat dari tahun 1980 hingga 2015. Kebijakan inilah yang menjadi akar dari banyak tantangan demografisnya. Kini, batas tersebut telah dinaikkan menjadi tiga anak.

Prihatin dengan resesi seks yang cepat, penasihat politik pemerintah mengusulkan pada bulan Maret bahwa wanita lajang dan belum menikah harus memiliki akses ke pembekuan sel telur dan perawatan IVF, di antara layanan lain untuk meningkatkan tingkat kesuburan negara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*